PELATIHAN

LRMPHP telah banyak melakukan pelatihan mekanisasi perikanan di stakeholder diantaranya yaitu Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR), Kelompok Pembudidaya Ikan, Pemerintah Daerah/Dinas Terkait, Sekolah Tinggi/ Universitas Terkait, Swasta yang memerlukan kegiatan CSR, Masyarakat umum, dan Sekolah Menengah/SMK

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan

LRMPHP sebagai UPT Badan Riset dan SDM KP melaksanakan riset mekanisasi pengolahan hasil perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 81/2020

Tugas Pokok dan Fungsi

Melakukan tugas penelitian dan pengembangan strategis bidang mekanisasi proses hasil perikanan di bidang uji coba dan peningkatan skala teknologi pengolahan, serta rancang bangun alat dan mesin untuk peningkatan efisiensi penanganan dan pengolahan hasil perikanan

Kerjasama

Bahu membahu untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan dengan berlandaskan Ekonomi Biru

Sumber Daya Manusia

LRMPHP saat ini didukung oleh Sumber Daya Manusia sebanyak 20 orang dengan latar belakang sains dan engineering.

Senin, 11 Mei 2026

KKP Siapkan SDM Andal Hadapi Dinamika Geopolitik Kawasan Maritim

Dinamika geopolitik global yang kian memanas menempatkan laut sebagai arena strategis perebutan pengaruh antarnegara. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, berada di titik krusial yang menentukan arah stabilitas dan arus perdagangan global.

Hal ini mengemuka dalam Kuliah Umum bertema “Transformasi Strategi Kemaritiman dalam Dinamika Geopolitik Kawasan” yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), di Politeknik AUP Jakarta.

Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio dalam paparannya menegaskan bahwa kawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi episentrum ketegangan global, dipicu oleh konflik terbuka maupun potensi konflik antarnegara besar.

Disampaikan bahwa sejumlah eskalasi global, mulai dari perang Rusia–Ukraina, konflik di Timur Tengah, hingga potensi konflik di Laut China Selatan dan Selat Taiwan, yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan maritim dunia.

“Laut hari ini bukan sekadar jalur transportasi, tetapi ruang strategis perebutan kepentingan global. Siapa yang menguasai laut, dia mengendalikan arus logistik, energi, dan ekonomi dunia,” tegas Marsetio. 

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi posisi Indonesia yang sangat strategis sebagai pengendali choke points dunia, khususnya Selat Malaka yang dilalui lebih dari 90 ribu kapal per tahun dan menjadi jalur vital distribusi energi global.

Namun di balik peluang tersebut, terdapat tantangan besar berupa kepadatan lalu lintas pelayaran, potensi konflik, hingga kerentanan terhadap gangguan keamanan dan lingkungan. “Indonesia bukan hanya penonton dalam geopolitik maritim, tetapi penentu keseimbangan. Kita berada di jalur yang menggerakkan sekaligus menyeimbangkan kekuatan dunia,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, menegaskan bahwa transformasi strategi kemaritiman harus dimulai dari penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi utama.

Menurutnya, tantangan geopolitik tidak bisa dijawab hanya dengan kebijakan atau infrastruktur, tetapi membutuhkan SDM andal yang memiliki wawasan global, adaptif, dan mampu membaca perubahan.

“Strategi kemaritiman bukan hanya soal menjaga laut, tetapi bagaimana kita memanfaatkan laut untuk memperkuat ketahanan pangan, ekonomi, dan posisi tawar Indonesia di dunia,” ujar Nyoman. 

Ia menambahkan, KKP saat ini mendorong pendekatan pembangunan berbasis ekonomi biru yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, dan daya saing global.

Program seperti kampung nelayan modern, pengembangan budi daya terintegrasi, serta penguatan konektivitas maritim menjadi bagian dari strategi konkret dalam menghadapi disrupsi global.

Nyoman juga menekankan bahwa pendidikan vokasi kelautan dan perikanan harus bertransformasi agar selaras dengan kebutuhan industri dan dinamika geopolitik. “Kita tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi mencetak pelaku utama pembangunan maritim yang mampu menciptakan nilai tambah dan menjaga keberlanjutan sumber daya,” tegasnya.

Kuliah umum ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran strategis generasi muda maritim bahwa laut adalah masa depan Indonesia, bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai pilar kedaulatan dan kekuatan bangsa di tengah persaingan global.

Hal ini juga selaras dengan arahan Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono yang menegaskan bahwa laut tidak hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga pilar kedaulatan dan masa depan bangsa yang harus dikelola secara berkelanjutan oleh SDM unggul sebagai kunci kekuatan sektor KP Indonesia.



Sumber: kkp web


Jumat, 08 Mei 2026

Ikan Asap Tanpa Asap, Inovasi Sehat dari LRMPHP

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan memperkenalkan inovasi pengolahan hasil perikanan berupa ikan asap tanpa asap sebagai solusi modern untuk mengatasi berbagai kelemahan metode pengasapan tradisional. Selama ini, proses pengasapan konvensional kerap menimbulkan permasalahan, seperti terbentuknya deposit tar, kandungan senyawa berbahaya, proses yang kurang higienis, serta mutu produk yang tidak konsisten. Melalui inovasi ini, LRMPHP menghadirkan teknologi pengolahan yang lebih aman, higienis, dan mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih terstandar.

Teknologi yang digunakan memanfaatkan asap cair (liquid smoke), yaitu hasil kondensasi dari proses pirolisis bahan alami yang telah dimurnikan untuk menghilangkan senyawa berbahaya, seperti tar dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Dengan metode ini, proses pengasapan tidak lagi melibatkan paparan asap secara langsung sehingga lebih aman bagi kesehatan, namun tetap mampu menghadirkan cita rasa khas ikan asap yang autentik. Selain itu, penggunaan asap cair memberikan keunggulan berupa proses yang lebih higienis serta hasil produk yang lebih konsisten.

Proses pembuatan asap cair meliputi beberapa tahapan, yaitu pemilihan bahan baku, pirolisis, kondensasi, pengendapan, penyaringan, dan destilasi lanjutan sebagai tahap pemurnian akhir. Tahap awal dimulai dengan pemilihan bahan baku yang bersih, alami, dan bebas kontaminan agar menghasilkan produk yang aman digunakan. Bahan yang umum digunakan antara lain tempurung kelapa, kayu mahoni, kayu jati, dan serbuk gergaji nonresin, sedangkan bahan yang harus dihindari meliputi kayu bergetah seperti pinus serta bahan yang mengandung cat, lem, atau zat kimia lainnya.

Setelah bahan baku dipilih, dilakukan proses pirolisis, yaitu pemanasan bahan tanpa oksigen pada suhu sekitar 400 °C dalam kondisi oksigen minimal sehingga menghasilkan asap, arang, dan gas. Asap yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui pipa pendingin atau kondensor pada tahap kondensasi sehingga berubah menjadi cairan atau kondensat. Kondensat ini merupakan asap cair berwarna gelap yang masih mengandung tar dan senyawa berbahaya. Oleh karena itu, dilakukan proses pengendapan dan penyaringan untuk menghilangkan tar serta partikel berat. Asap cair didiamkan selama 1–2 minggu hingga tar dan partikel berat mengendap di bagian dasar, kemudian cairan jernih dipisahkan dan disaring menggunakan kertas filter serta arang aktif untuk memperoleh asap cair yang lebih bersih.

Tahap akhir berupa destilasi lanjutan yang bertujuan menghilangkan sisa tar dan senyawa PAH. Proses ini dilakukan dengan pemanasan pada suhu sekitar 125 °C untuk memisahkan fraksi berdasarkan titik didih dan mengambil fraksi ringan yang lebih aman digunakan. Hasil akhirnya berupa asap cair yang lebih jernih, memiliki aroma lebih bersih, dan aman diaplikasikan pada produk pangan.

Dalam pengolahan ikan asap menggunakan asap cair, bahan yang digunakan berupa ikan segar utuh atau fillet. Ikan terlebih dahulu dicuci menggunakan air bersih, kemudian direndam selama 20–30 menit, tergantung ketebalan ikan, ke dalam larutan asap cair dan garam. Larutan dibuat dengan melarutkan asap cair sebanyak 2% dan garam 3% ke dalam air bersih atau disesuaikan dengan selera. Setelah proses perendaman selesai, ikan ditiriskan selama 30 menit sebelum dilakukan proses pengeringan selama 3–7 jam, tergantung metode dan ketebalan ikan yang digunakan.

Berdasarkan hasil uji hedonik terhadap aspek rasa, aroma, warna, dan tekstur, pembuatan ikan asap dengan metode tersebut menghasilkan produk dengan tingkat kesukaan yang tinggi dari panelis. Hasil ini menunjukkan bahwa teknologi asap cair mampu menghasilkan produk ikan asap dengan mutu sensoris yang baik dan dapat diterima oleh konsumen.

Melalui inovasi ikan asap tanpa asap ini, LRMPHP menegaskan komitmennya dalam mendorong pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan yang sehat, higienis, dan berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha sekaligus meningkatkan daya saing produk olahan perikanan di masyarakat.


Senin, 04 Mei 2026

KKP Rampungkan Pembangunan 65 KNMP Tahap I

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah merampungkan pembangunan 65 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahap pertama. KKP juga telah menyiapkan tim satuan tugas untuk mengawal operasional program prioritas pemerintah tersebut.

“Kami melaporkan bahwa pekerjaan konstruksi KNMP Tahap 1 pada 65 lokasi telah selesai sepenuhnya 100% per akhir April 2026,” ujar Ketua Tim Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan KNMP tahap I dan II, Trian Yunanda dalam siaran resmi di Jakarta, Sabtu (2/5).

Seiring penyelesaian pembangunan tersebut, KKP juga telah menerbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 20 Tahun 2026 tentang Satgas Operasionalisasi KNMP. Regulasi ini untuk memastikan operasionalisasi KNMP lebih terarah, sistematis, efektif, dan efisien sesuai tujuan pembangunannya.

Adapun tujuan program KNMP diantaranya untuk mewujudkan swasembada pangan nasional, implementasi ekonomi biru sebagai pusat pertumbuhan baru, penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, dan pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir.

“Kami pastikan seluruh fasilitas dapat segera berfungsi secara optimal. Selanjutnya Satgas akan memastikan kesiapan operasionalisasi KNMP dapat berjalan efektif,” ungkap Trian.

Trian turut menyampaikan permintaan maaf karena penyelesaian pembangunan KNMP di sejumlah lokasi mundur dari jadwal yang ditargetkan. Keterlambatan pembangunan disebabkan banyaknya dinamika di lapangan, diantaranya lokasi pembangunan umumnya berada di wilayah pesisir yang jauh dari perkotaan. 

Kemudian adanya klaim terhadap lahan yang sedang dibangun, hingga kondisi cuaca ekstrim yang masih berlanjut sampai awal tahun 2026. “Kami memohon maaf atas keterlambatan penyelesaian, dan akan melakukan pemantauan ketat terhadap pelaksanaan penyelesaian KNMP Tahap 2 di 35 lokasi lainnya,” ujar Trian.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pembangunan fasilitas-fasilitas KNMP harus berkualitas agar benar-benar bisa dimanfaatkan untuk peningkatan produktivitas masyarakat nelayan. Sejumlah fasilitas utama di lokasi KNMP di antaranya pabrik es, gudang beku, sentra kuliner, bengkel kapal, hingga kios perbekalan nelayan. 


Sumber: kkp web


Kamis, 30 April 2026

Instruktur LRMPHP Jadi Narasumber Pelatihan ATI di Bangunharjo Bantul

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) kembali berpartisipasi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui Pelatihan Alih Teknologi Informasi (ATI) yang dilaksanakan di Dusun Saman II, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, pada 30 April 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta serta DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di bidang pengolahan hasil perikanan.

Dalam kegiatan tersebut, instruktur LRMPHP, Tri Nugroho Widianto, hadir sebagai narasumber yang menyampaikan materi mengenai gizi ikan, manfaat konsumsi ikan, serta penanganan dan pengolahan ikan yang baik. Materi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya konsumsi ikan sekaligus mendorong pemanfaatan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah.

Peserta pelatihan tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari sesi penyampaian materi hingga praktik pengolahan ikan oleh praktisi. Pada sesi praktik, peserta diajarkan pembuatan produk olahan berupa gyosa ikan dan kroket ikan tuna. Gyosa ikan merupakan inovasi produk kekinian yang memadukan kelezatan protein ikan dengan kulit pangsit yang renyah, sedangkan kroket ikan tuna menjadi camilan sehat bergizi tinggi yang cocok untuk konsumsi harian maupun ide usaha rumahan.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber seputar kandungan gizi ikan, teknik penanganan bahan baku yang baik, hingga peluang usaha dari produk olahan perikanan. Suasana pelatihan juga berlangsung dinamis melalui diskusi interaktif antara peserta, narasumber, dan praktisi sehingga materi yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami. Selain itu, peserta tampak bersemangat saat mengikuti sesi praktik dengan mencoba langsung setiap tahapan pembuatan produk olahan ikan, mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga penyajian produk akhir. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan besarnya minat masyarakat untuk terus menambah wawasan, meningkatkan keterampilan, serta memanfaatkan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah yang berpotensi mendukung perekonomian keluarga.

Kegiatan tersebut turut dihadiri anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, perwakilan Dinas KP DIY, serta praktisi pengolahan ikan. Melalui sinergi ini, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi konsumen ikan, tetapi juga semakin terampil mengolah ikan menjadi produk sehat, bergizi, dan memiliki nilai ekonomi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.


Senin, 27 April 2026

Selasa, 21 April 2026

LRMPHP Bantul Terima Siswa PKL dari SMKN 1 Tanjungsari

Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LRMPHP) Bantul menerima siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) dari SMKN 1 Tanjungsari, Gunungkidul, pada Senin, 20 April 2026. Kegiatan penerimaan dilaksanakan di aula LRMPHP dan dihadiri oleh jajaran manajemen serta para instruktur.

Kegiatan ini merupakan wujud implementasi kerja sama yang telah terjalin antara LRMPHP Bantul dengan SMKN 1 Tanjungsari, sekaligus bentuk dukungan terhadap program pendidikan vokasi dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang pengolahan hasil perikanan.

Pelaksanaan PKL akan berlangsung selama lima bulan, terhitung mulai 20 April hingga 14 September 2026. Sebanyak empat siswa dari jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi) mengikuti kegiatan ini, yang terdiri atas satu siswa dan tiga siswi, yaitu Devi Kurniawati, Hesty Dinarta, Ibra Maulana Alfachrezy, dan Ratih Tirtaningrum.

Mewakili Kepala LRMPHP, Koordinator Tata Operasional, Nur Fitriana, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh SMKN 1 Tanjungsari kepada LRMPHP sebagai lokasi pelaksanaan PKL. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Meski saat ini LRMPHP tengah dalam proses penataan struktur organisasi dan tata kerja (SOTK), kami tetap berkomitmen untuk memberikan pelayanan dan pembelajaran terbaik kepada seluruh siswa PKL,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, guru pendamping dari SMKN 1 Tanjungsari, Dhita Pramestya, berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut di masa mendatang. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara dua instansi dalam mencetak lulusan yang siap menghadapi tantangan industri perikanan.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan penerimaan, para siswa PKL mengikuti orientasi lingkungan melalui kunjungan ke berbagai fasilitas yang dimiliki LRMPHP. Fasilitas yang diperkenalkan meliputi perpustakaan, laboratorium kimia, laboratorium pengolahan, laboratorium sensori, workshop, serta ruang display alat dan mesin pengolahan hasil perikanan. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman awal kepada peserta mengenai fasilitas, peralatan, serta mekanisme kerja yang akan digunakan selama pelaksanaan PKL.